Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerita’ Category

Latar belakang, sebenernya agak ragu untuk menulis ini, karena membuka jati diri saya dan rasa pilu hehe… Tapi berharap kisah ini bisa dijadikan sebuah energi positif untuk siapa pun anda untuk tidak pernah berhenti mengejar sesuatu yang anda cita-citakan dan menjadi jawaban betapa ALLAH SWT menjawab semua doa hamba-hambanya. Dan tahukah melalui apa jawaban itu datang? Silakan simak kisah ini…

Tulisan ini juga sebagai reaksi “santai” atas berita rencana untuk me-review kembali program beasiswa yang pada dasarnya adalah sebuah investasi mega besar berjangka panjang. Review itu semoga bermanfaat sehingga semakin mengefisienkan program-nya dan tidak menutupnya sehingga mengubur mimpi jutaan orang yang menginginkan pendidikan yang lebih tinggi dan menghentikan rencana untuk Indonesia yang lebih berpendidikan.

(lebih…)

Read Full Post »

Info yang pernah saya dapat, service AC mobil perlu dilakukan berbarengan dengan service rutin kendaraan. Katakanlah kendaraan kita di service tiap 5000 km untuk penggantian oli rutin dan oli maupun peralatan lain sesuai buku service.
(lebih…)

Read Full Post »

Penipuan Modus Baru

Pagi ini saya ditelpon ayah saya. Sebelum mengangkat, saya sudah terpikir kalau jam segini tiba-tiba ditelpon di hari kerja, biasanya ada suatu hal yang penting. Ternyata benar, beliau memberitakan bahwa dini hari tadi orang tua saya nyaris terkena modus penipuan baru. Setidaknya, baru untuk kami. (lebih…)

Read Full Post »

Pengalaman selama ini, berhadapan  dengan birokrasi selalu berbelit dan memakan waktu. Hal yang sama juga saya rasakan dalam mengurus Balik Nama untuk kendaraan (babeh) saya. Berikut adalah narasi pengurusan balik nama mobil penumpang, roda 4 balik nama dari KTP Jakarta selatan menjadi pemilik baru di Jakarta Selatan.

(lebih…)

Read Full Post »

“Video Killed A Radio Stars…”

Konon penggalan lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Band bernama Buggles tahun 1979. Sekitar tahun 1998 lagu ini di populerkan kembali oleh grup The President Of USA.  Kabarnya lagi, lagu ini menceritakan kepopuleran video menggantikan radio, yang hanya bisa di dengar saja, pada zaman tersebut yang tentunya mencancam karir para bintangnya. Mungkin masa yang akan datang diperkirakan radio sama sekali tidak dijadikan pilihan dan studio penyiaran pun ditinggalkan begitu saja.

(lebih…)

Read Full Post »

Setia…Menunggu…

Oh, sejuk nya…

Melihat dia berada di situ…

Syukur ku,

Mataku masih diijinkan melihatnya…

Berkali-kali pun tak kan bosan…

Aahh…

Sungguh…

Menenangkan…

(lebih…)

Read Full Post »

Indonesia…Negeri berjuta kekayaan alam…Zamrud khatulistiwa…Terbentang indah dari sabang sampai merauke menghiasi dunia….Rangkaian hutan sebagai paru-paru dunia…

Sudah lama saya tidak mendengar ungkapan yang mengagung-agungkan kekayaan Indonesia seperti ini. Terakhir kali mungkin ketika kelas PPKn (jangan tanya kepanjangannya ya…). Saat ini saya seperti melihat Indonesia negeri kaya akan bencana…

Banjir yang akan saya bicarakan disini, sebagai sebuah bahasan yang bagi setiap orang mungkin menjadi sebuah hal yang biasa…Mungkin ketika awal-awal kita sempat mengerutkan dahi; bertanya-tanya: “kok bisa?”; atau bahkan sampai berniat mengutuk sang Gubernur bahkan kalau perlu mengutuk dari Ketua RT, RW sampai Camat setempat juga kena…Hal-hal yang penuh efek kaget seperti itu sudah berkurang dan berganti dengan hal-hal yang menjadi terbiasa: “ah, udahlah…Capek…”, “yah, ujan…Paling-paling ntar juga banjir lagi…”.

Mengenai pengalaman mesra dengan yang namanya banjir sudah sempat saya rasakan sejak saya sekolah SMA. SMA saya dikenal dengan ekstra-kulikuler bertajuk: “banjir”, maklum karena SMA kami sangat dekat dengan Ciliwung River…Berbeda dengan Sungai Thames yang membelah kota-kota di eropa sana…Sungai ciliwung yang membelah beberapa perkampungan bantaran sungai tak segan-segan mengirimkan airnya ke perumahan sekitar dan juga SMA kami. Memang yang terbesar membanjiri sekolah paling-paing hanya setahun sekali tapi efeknya ke perumahan sekitar lah yang paling terasa dan peran dari rekan-rekan media juga yang membesar-besarkan kejadiannya. Banjir terbesar hanya sebatas mata kaki pria dewasa normal tapi dari lantai dua, dan ketinggian banjir rata-rata dari observasi berada pada ketinggian mata kaki anak balita yang tengah jinjit di lantai dasar.

Itulah kisah banjir semasa SMA. Lalu bertambah baikkah sekarang? Tidak bung…menjadi lebih parah dimasa sekarang….Pengalaman saya yang lumayan dekat dengan banjir baru awal bulan Februari ini saya rasakan. Hujan besar dan menyusul banjir telah menutup akses dari dan ke Bandara Cengkareng. Akibatnya saya bersama ratusan penumpang dan calon penumpang pesawat terpaksa bermalam di bandara menunggu akses bandara terbuka kembali.

Banjir bagi pengendara kendaraan pun memberikan kesan yang mendalam, lebih dalam dari lubang-lubang di jalan raya. Banjir yang menggenangi semakin mempercepat kerusakan jalan. Efeknya lubang-lubang yang dalam dan menganga lebar bertebaran di jalan. Yang paling berbahaya adalah bagi pengendara motor, jika sang pengemudi lengah dapat terjadi kecelakaan serius. Roda depan motor dapat terperangkap di dalam lubang dan menyebabkan pengendara terjungkal. Bahaya bertambah ketika motor tengah melaju dalam kecepatan tinggi dan kendaraan tengah padat. Selanjutnya bagaimana, saya tidak tega lagi untuk melanjutkan skenario kecelakaannya… Ujung-ujungnya menjadi pengeluaran lagi untuk pembiayaan pengobatan. Pengeluaran juga bagi pengendara mobil sedan yang perlu menganggarkan lebih untuk perwatan kaki-kaki mobilnya.

Itulah permasalahan banjir di ibukota…Diramu dengan permasalahan transportasi dan tata kota yang masih carut-marut semakin menambah indahnya hidup di belantara ibu kota…

Tapi tahukah anda…??

*Terpisah dari problema diatas berikut sedikit info yang berbeda…

Ada banjir yang direncanakan? (wooah…?apaan nih..?). Sungguh, ini adalah banjir yang direncanakan. Tapi ini bukanlah sindikasi atau persengkongkolan antara penjual ban pelampung dengan pemda atau juga bukan kolaborasi antara tukang dorong “mobil yang kejebak banjir” dengan pengusaha perumahan. Apalagi niat buruk sang penjual perahu karet…Bukan…Bukan…

Banjir air yang saya maksud adalah salah satu metode dalam teknik pengambilan minyak bumi, atau biasa dikenal dengan waterflood.

Minyak bumi berada didalam sebuah reservoir yang bisa di analogikan sebuah tangki bertekanan. Ketika sumur bor telah di buat menembus tangki tadi, maka produksi minyak bumi akan bergantung pada perbedaan antara tekanan yang terjadi di dalam tangki dengan atmosfer. Minyak bumi akhirnya dapat mengalir akibat perbedaan tekanan ini.

Tekanan sebuah reservoir berarti berperan sangat signifikan dalam mengalirkan minyak bumi. Namun, seiring dengan produksi minyak maka tekanan reservoir akan turun. Analoginya menyerupai dengan balon, jika angin di dalam terus di lepas keluar maka tekanan balon akan berkurang (maksudnya kempess…). Sehingga perlu untuk menambah tekanan reservoir tadi, salah satunya dengan menekannya dengan air.

Inilah yang disebut sebagai waterflood, tekanan yang berasal dari air tadi akan membantu menjaga tekanan di dalam tangki (reservoir) tetap tinggi. Akhirnya sang reservoir pun di banjiri oleh air dengan pola-pola tertentu hingga bisa menjaga tekanan (pressure maintenance) di dalam reservoir dan bisa meng-angkat minyak lebih banyak.

Apa ada kaitannya antara waterflood dengan banjir di kehidupan nyata? Entahlah, jangan-jangan jaman dulu orang-orang pencetus ide ini rumahnya juga kebanjiran…Meureun…

Hehe..Bagaimana menurut anda…?

Read Full Post »

Older Posts »