Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai salah satu buku terlaris Malcom Gladwell.
(lebih…)

Read Full Post »

Ini adalah bagian pertama dari resume buku “Blink”. Buku setebal 320-an halaman ini dianggap sebagai salah satu karya terbaik jurnalis New York Time: Malcolm Gladwell.
(lebih…)

Read Full Post »

Resume: The Decision Book

Anda pernah mendapatkan pembelajaran bahwa untuk menghadapi suatu pekerjaan maka bagilah dengan kategori: penting dan mendesak (important and urgent). Karena ada hal yang terkadang penting tetapi tidak mendesak, atau ada yang mendesak namun tidak penting dan kombinasi diantara keduanya.

The Decision Book (lebih…)

Read Full Post »

Pada post terdahulu telah diceritakan sebagian karakter Chaerul Tanjung (CT) yang menurut saya menarik dan berkontribusi pada kesuksesannya. Pada post ini, akan dilanjutkan dengan karakter dan kisah lainnya yang tidak kalah menariknya.

(lebih…)

Read Full Post »

Butuh waktu sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan sampai habis buku Chairul Tanjung – Si Anak Singkong. Setelah selesai membacanya, saya kagum sekali dengan prestasi dan karakter beliau. Seorang Chaerul Tanjung (CT) yang lahir dari keluarga miskin bisa tumbuh menjadi seorang pengusaha sukses dan membuatnya masuk ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan.

(lebih…)

Read Full Post »

Mengenai buku ini, Kang Abik berusaha menebarkan banyak hikmah dalam tiap-tiap kejadian-kejadian yang menimpa Fahri (tokoh utama dalam buku ini). Bahkan muatan informasi mengenai tata cara/adab-adab di dalam Islam diselipkan dengan cerita yang mengalir tanpa pembaca merasa sedang di ceramahi oleh seorang sarjana Kairo namun terhanyut dengan aliran cerita tadi. Novel ini juga disertai catatan-catatan kaki yang menjelaskan beberapa dalil hingga bisa dibedakan apakah ini sebuah syair atau hadits juga menjelaskan terjemahan bahasa asing yang dipakai dalam percakapan dalam novel ini ketika sang pelaku menggunakan bahasa selain Indonesia seperti bahasa Arab dan Jerman.

Diantara informasi baru yang saya dapat di buku ini adalah mengenai kondisi dan perilaku penduduk mesir. Kang Abik yang kebetulan bersekolah di Mesir tentunya mengenal mengenai kelakuan para penduduk negara di bagian utara benua Afrika ini dan ini ditambahkan juga mengenai bagusnya penggambaran suasana lokasi tempat para tokoh berada, seakan-akan Kang Abik menarik pembaca ke dalam lokasi yang sama. Pembaca bisa menemukan Insipirasi baru ketika melihat perilaku Fahri seperti bagaimana Ia berinteraksi dengan penduduk lokal, termasuk tetangga dan juga istrinya. Untuk hal yang terakhir sepertinya ada buku khusus yang berkaitan dengan hal ini yang lebih tepat untuk dibaca, novel ini (mudah-mudahan) bisa jadi sebagai starter untuk pembaca agar mencari teori khusus tersebut lebih lanjut. Betapa lemah lembutnya seorang Fahri memuliakan istrinya dan bagaimana kasih sayang yang telah berada dalam kecintaan kepada Sang Maha Pencipta.

Tokoh Fahri mungkin bagi sebagian orang menyebutnya sebagai tokoh yang sempurna. Sempurna seakan-akan tidak ada orang yang bisa menyaingi karakter beliau atau bahkan keberuntungan beliau. Lihatlah seperti apa kapasitas beliau dan bagaimana ketika Ia bisa menguasai beberapa bahasa, bagaimana ia berhasil memiliki kuliah yang sukses dan rumah tangga yang harmonis dengan istri yang mungkin diidamkan oleh banyak pria, dari 4 hal yang di pesankan Rasulullah SAW sang istri bisa memiliki ke-empat-empat-nya.

Namun, disitulah mungkin salah satu nilai lebih dari cerita ini, bahwa sang penulis berusaha melukiskan buah perjuangan seseorang kelak akan dipetik dan dinikmati oleh orang itu juga. Hikmah inilah salah satunya yang saya tangkap, ketika seseorang berusaha dengan tulusnya membantu orang lain maka ia akan mendapat balasannya. Semangat itulah yang saya lihat menonjol pada karakter sang Fahri, membantu dan terus membantu…Masih ada sisi lemah dari tokoh ini yang membuat saya berpikir bisa saja tokoh seperti Fahri ini ada dan dikatakan menjadi realistis (*apa realistis harus diartikan tidak sempurna-sempurna amat ??), tapi hal ini justru semakin menambah indahnya skenario cerita. Lihatlah bagaimana seoarang Fahri kemudian jatuh sakit, dan bagaimana kemudian ia menemukan kesulitan-kesulitan dalam hidupnya setelah menjalani rumah tangga, bagaimana lika-liku kisah cintanya. Menurut saya itu adalah sebuah kelemahan yang berusaha di isyaratkan sang penulis dibalik kuatnya karakter seseorang. Termasuk mengingatkan kepada para pembaca untuk senantiasa berdialog dengan sang Kholik dan semakin intense dalam berkomunikasi dalam keadaan apapun.

Sayang sang penulis tidak bercerita dari mana Fahri mendapatkan bakat bersosialisasi seperti itu selain sedikit clue mengenai buku Abbas As-siisiy. Tapi itu belum cukup, lalu bagaimana ia bisa mengenal sekian banyak orang, ketua-ini, pemimpin-itu jika ia tidak memiliki latar belakang tertentu. Hehe… Tidak semuanya harus diceritakan memang…

Mengenai salah ketik saya masih temukan di cetakan ke-27 ini. Ada ketidak konsistenan dalam penyebutan nama arab: “syathiri” ada yang di tulis sebagai “syatiri”. Atau “ketika Maria menghampiri Maria”. Tapi apalah kesalahan ini dibanding indahnya semua rangkaian kisah di novel ini. Tapi gak perlu di perpanjang, lihat sisi lainnya. Anggaplah seperti melihat sebuah jerawat kecil di pipi kulit wajah yang putih berseri kalo kyai kondang dari Geger Kalong pernah berujar kurang lebih seperti itu.

Mengenai kepandaian Kang Abik mengemas bahasa dan membuat klimaks dan antiklimaks hingga terangkai kisah yang mengalir ini saya jadi teringat beberapa bacaan yang lebih berdasar dan realistis, yaitu buku 60 Kisah Sahabat Rasul penerbit CV Diponegoro. Kalau anda pernah membaca buku ini (sayang saya masih belum bisa melacak buku saya yang ini terakhir dipinjam siapa) anda akan seperti berada di tengah-tengah kehidupan para sahabat. Di buku yang bersampulkan coklat tua ini sang penulis bisa mengisahkan kehidupan para sahabat Rasulullah SAW tentu dengan karakter dan keistimewaan masing-masing dengan kisah yang mengalir.

Di akhir, adalah sesuatu yang menarik ketika kelak banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari buku ini. Minimal saya bisa melihat rasa-rasa penasaran rekan-rekan di field yang akhirnya juga punya keinginan bisa membaca buku ini. Siapa tau bisa mirip-mirip kejadian sang sutradara AAC yang kemudian menghasilkan karya-karya yang menurut sutradara tersebut Islami. Amiiin…Who’s next…?

sekian ulasan mengenai novel ini. Melihat trailer film-nya, sepertinya akan ada perbedaan jika di bandingkan dari isi novel. Namun, tidak diulas dalam tulisan ini…Terima kasih dan maaf untuk hal yang tidak berkenan.

Read Full Post »

Ayat-ayat cinta

Cover Buku Pertama kali mengetahui terbitnya buku ini adalah ketika saya kuliah mungkin masih di tingkat ke-3. Seorang rekan saya yang giat sekali membaca, termasuk buku-buku setebal ini pun dibacanya (maaf, bahkan ada yang lebih tebal lagi dan itupun dilahapnya pula…ayy,hebat nian…). Namun, saat itu buku ini belum menjadi piilhan bagi saya untuk membacanya. Hal yang melatarbelakangi diantaranya adalah dari gaya baca saya yang saat itu lebih mencari bacaan-bacaan singkat yang tiap-tiap bab-nya tidak terkoneksi sehingga bisa saya tinggal dan saya baca lagi kapanpun saya mau tanpa kehilangan banyak alur ceritanya, sehingga saya lebih memilih membaca cerpen dibanding novel. Kebetulan saat buku ini beredar juga sudah banyak tersedia cepren-cerpen bertipekan sama di pasaran, cukup mudah mencarinya: main-main saja ke kios buku yang ada di jalan gelap nyawang (Bandung) dan bisa ditemukan banyak kumpulan cerpen dan novel bertemakan seperti buku ini. Pilihan ketika itu lebih banyak jatuh ke Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Asma Nadia, dan beberapa pengarang-pengarang dari FLP (Forum Lingkar Pena) yang kebetulan satu payung dengan Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) yang menulis novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) ini.

Lalu bagaimana ceritanya hingga akhirnya saya bisa tergerak untuk membaca buku ini? Bagusnya novel ini sudah sempat terdengar sejak awal buku ini beredar, tapi (kembali) karena masih belum prioritas akhirnya saya tinggalkan padahal di dalam hati, saya sudah menaruh pertanyaan akan kebenaran omongan/penilaian orang. Hal ini pun kemudian terakumulasi dan terakhir diberitakan bahwa buku ini akan di-film-kan bahkan buku ini juga dapat memberikan pencerahan kepada sang sutradara mengenai cara pandangnya mengenai film Islami yang sebelumnya selalu dinasehatkan oleh ibunya tapi belum pernah ia buat. “Novel yang membuka pintu hidayah-kah ini?” Rasa keingintahuan semakin bertambah dengan pertanyaan itu hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku ini mendampingi buku lainnya yang saya beli namun dengan tipe “buku serius” sebagai bagian dari re-aktivasi program membaca buku “diluar keprofesian” saya yang tahun 2007 kemarin mandek. Terlambat? Boleh dibilang begitu, tapi semuanya tentu ada momen-momen-nya sendiri, dan ketika kita berada pada momen yang pas (sudah jodohnya) sepertinya kepuasan yang luar biasa pun bisa saya rasakan. Buku ini berhasil saya lahap dalam tempo kurang dari 3 hari (waktu membaca yang paling saya banyak habiskan adalah diatas kendaraan ketika sedang dalam perjalanan ke-field tempat saya bekerja).

bersambung…

 

*sebagai cerita awalan. Rencananya tulisan ini disambung lagi nanti, maklum, masih nyari-nyari waktu luang untuk bisa nulis di field… 🙂

Read Full Post »