“…I’m learning how to fall
Learning how to make a hit…”
Pernah denger sebelumnya…?
Ini posting ke-dua yang diambil dari lagu tempo doeloe dinyanyikan oleh Bon Jovi dalam solo album-nya: Destination Anywhere. Tujuannya ingin membangkitkan tema tentang jatuh.
Alam, sebagai kreasi dari Sang Maha Pencipta, mengajarkan kepada manusia banyak hal. Salah satunya adalah gravitasi. Sebuah kekuatan dari bumi yang diterjemahkan oleh seorang ilmuwan jaman dulu, konon terinspirasikan ketika ia melihat apel terjatuh dari pohon. Sebenernya kalau aja bukan beliau yang nemuin, bisa jadi ada orang Malang yang menemukannya, wong apel Malang juga enak kok… Hehe.. Kidding…
Gravitasi bumi dapat diartikan bahwa tiap benda yang berada di permukaan bumi akan terkena gaya tarik menuju inti bumi. Pada kejadian lain, suatu benda yang terbang atau terlempar ke angkasa pada suatu saat akan jatuh (tentunya ke bawah) karena adanya gaya tarik ini.
Salah satu hal yang bisa diambil dari gravitasi bumi ini adalah pelajaran kalau ada suatu saat kita berada diatas dan suatu saat kita akan jatuh dan berada di bawah. Bisa jadi, sulitnya pendakian kita sampai ke atas akan sama sulitnya dengan peristiwa jatuhnya kita. Mungkin untuk bisa jatuh tidak sulit, tetapi untuk bisa mendongakkan kepala, menggerakkan sekujur badan, membersihkan debu-debu yang menutupi dan berusaha untuk kembali berpijak, itulah sekian banyak langkah yang akan memerlukan energi.
Sudah siap kah Anda Jatuh?
Jika jatuh diibaratkan sebagai sebuah kegagalan, maka bisa jadi jawaban dari kesiapan kita akan dikembalikan kepada sejauh mana kita siap untuk sukses. Inilah sebuah sikap mental atau dengan kata lain mental juara. Jika melihat sejarah, maka akan bisa dilihat bahwa kesuksesan adalah salah satu mata rantai dari untaian kegagalan. Terkadang akan langsung menemukannya, terkadang menemukannya nanti.
Namun, kalau jatuh di ibaratkan sebuah kehilangan, maka modal paling utama adalah diri anda (ya iyaa lah…). Kehilangan adalah sebuah ungkapan hati ketika merasa kepemilikan terhadap sesuatu telah berganti dari anda menjadi milik orang lain. Untuk itu, salah satu cara adalah bicara kepada hati kita. Apalagi sambil mengingat bahwa semua yang kita dapat pada dasarnya memang diberikan oleh Sang Maha Pemberi.
Ingat juga ketika kita merasa gagal atau kehilangan, bahwa waktu di saat kita berhasil dan berada diatas adalah juga dibantu oleh orang-orang di sekitar kita. Jasa mereka juga lah yang membantu kita menyusun bata sehingga kita bisa menikmati kebahagian berada di angkasa. Jasa perusahaan penerbangan lah yang menyebabkan anda berada diatas angkasa bahkan jauh diatas awan sehingga lebih jauuuh lagi menjauhi inti bumi melawan gravitasi.
Jika di ibaratkan sebagai sebuah pembelajaran, maka mari mengingat atau melihat perjalanan hidup seorang bayi. Mulai merayap, merangkak dan berjalan. Saat ia mulai menapaki dunia dengan kaki-kaki kecilnya ia pun tersenyum dan tertawa tandanya Ia telah mulai merasakan sesuatu yang baru, ia mulai belajar. Suatu saat, mungkin ia akan jatuh dan mulai merasakan nyeri, bahkan mungkin memar. Pembelajaran yang baik untuk mendidiknya akan ada sebuah konsekuensi dari perbuatannya: berjalan tidak hati-hati. Atau ketika kita belajar naik sepeda dan kita terjatuh, disaat itulah kita mengetahui bahwa suatu saat badan kita akan tidak seimbang dan disaat itulah kaki kita seharusnya mulai siaga untuk bisa menapak menahan jatuh.
Jatuh adalah suatu moment, dan bangkit adalah moment lanjutannya. Kita akan jatuh sebagaimana kita belajar mengenai gravitasi. Yakinlah kalau kita sebenernya memiliki kemampuan diri untuk mengatasi dari jatuh ini, karena itulah kita bisa berjalan dan berlari bahkan melakukan banyak hal. Sang Pencipta mengajari kita berjalan dengan cara beradaptasi dengan gravitasi bumi seperti apa yang kita jalani sehari-hari, bahkan sejak kecil ketika kita mulai dari merangkak dan seterusnya. Di saat kita jatuh, disitulah kita bisa belajar bahwa disitulah titik lemah dari diri ini yang berusaha ditunjukkan oleh Sang Maha Pencipta kepada kita.
*to you, who have fallen, race you to the top,…
Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)
Wah K Aby… kalo di dunia riset mah gak perlu belajar jatuh lagi, mau gak mau, rela gak rela udah hampir pasti akan sering jatuh,,, hihihi,,,
), dampaknya malah jadi gak peka ama “semangat bangkit”… itu gimana ya?
Saking dah terbiasanya jatuh (bahasa kerennya mah tahan banting kali ya
Woah, saya justru kagum sama para peneliti, langsung berhadapan dengan term “gagal”. Thomas A. Edison menginspirasikan dengan kegagalannya justru ia telah menemukan jalan menuju ke suksesannya karena dengan mengetahui formula tsb gagal maka ia telah berinvestasi untuk tidak mencoba formula dgn cara seperti itu lagi (tentu setelah evaluasi).
Mungkin hilangnya semangat karena kamu memandangnya dari sudut pandang jatuh=gagal total=no way out=the end. Kalo boleh saran, coba dilihat sbg momen jatuh=batu loncatan. semangat yang hilang juga bisa jadi indikasi jenuh Ma, try to have a break, refreshing may be atau perbanyak silaturahmi. Hehe.. Sharing2 aja, mungkin benar mungkin juga kurang pas,hehe…
jatuh adalah sebuah keniscayaan, tapi tetep aja kalo mengalami rasanya sakit.
hmmm..pertanyaannya.. gimana caranya menghilangkan “trauma” dari jatuh?
Woah, tough question. Any idea…?
Bagaimana kalau begini…
Trauma itu berkaitan dengan sikap mental, berarti tergantung dari sikap mental-nya. Kalau diarahkan dari sudut pandang yang positif mudah2an hasilnya juga positif.
Misal, semakin sering terjatuh mungkin akan membuat kita semakin terlatih untuk jatuh, sehingga yang awal-nya sakit lama2 menjadi terbiasa dan lebih tangguh. Analogi ke anak kecil aja, kalau dia gak di kembangkan dengan sikap positif, di-encourage, jangan2 nanti gak akan berani jalan, menjadi penakut, karena jatuh terus… Woah, bisa2 nge-rangkak seumur idup… Kalau kita bisa ngasi pengertian, mengingatkan akan goals/rewards atau ssuatu yang memotivasi, bisa jadi itulah yang menyelamatkan kita dari kungkungan diri untuk bangkit dan tidak akan lelah untuk terjatuh… Karena kita yakin, setiap jatuh itu bermakna dan setiap jatuh bisa dijadikan momen untuk loncatan yang lebih jauh lagi…
Kitu meureun, hanya sumbang saran aja… bukan psikolog, hehehe… Menurut kamu bgimana gHin?
setuju, k’aBy
(meminjam istilah Pak Armein)
memang sepertinya sikap mental itu yang harus dibina. Sadar bahwa apa pun yang terjadi itu sudah dalam rencana-Nya, dan mengambil hikmah dari kejatuhan tsb.
Moreover, berpikir bahwa seharusnya setelah jatuh kita harusnya jadi lebih pintar
tapi, sikap mental itu terkait umur juga sepertinya ya..
bayi –> jatuh kayanya ga bikin kapok
remaja –> biasanya kalo jatuh makin penasaran, malah makin “dijabanin”
dewasa (baca: tua) –> jatuh bikin kapok
semakin lama manusia tambah penakut ya?
nice post btw, it makes me think
ooh ini ya Ghin, yang bikin kamu bisa menemukanku dan akhirnya aku dapet kabar baik dari ghina:D…
makasi ya By..hihi gak nyambung…
klo I`am learning how to fall mah kayaknya dah banyak orang yang punya pengalaman yang sama kalii
,
tapi aku mau nanya klo pertanyaannya di balik I`am falling how to learn?? hayooo gimana ya??..bakal sama maksudnya engga??
-iseng mode :p-
i’ve been falling then i knew there’s so many ways how to raise to the top. Thanks God, it’s better than i’m on the top directly, then i just know one way :succesfully falling.
huahh,,belajar jatuh untuk lebih banyak belajar bangkit. walaupun jatuh itu sakit,,tapi saat bangkit jadi berasa manis..
asw.
wow, a nice blog.
I like this.
salam kenal dan
selamat berkrya lewat tulisan.
ikut nimbrung ya.. Analoginya bener banget, jadi inget Affan (anak) aja belajar jalan sekitar sebulan dan dah sering jatuh2, sekarang dah mulai pengen lari..
Jadi, gagal-jatuh-bangkit itu sebenernya fitrah manusia ya, gimana kita berfikir jernih n gak sensi aja kali ya..