“Siapakah yang bisa membendung waktu yang terus bergulir…?”
Tidak terasa, sudah hampir 3 bulan saya tidak menulis… Agak aneh juga rasanya. Meski berbeda dengan ketika saya lama tidak berolah-raga yang biasanya badan jadi terasa pegal-pegal dan mulai ada tambahan timbunan disini dan disana,hehe… Beberapa event sempat ingin saya komentari – karena salah satu peran yang ingin saya mainkan dengan blog ini adalah sedikit menangkap perjalanan sejarah (meski baru sebatas komentar).
Sebut saja ketika akhir November 2008 ketika semua orang ramai membahas krisis global. Saya ingin sekali mengambil kursi dalam meja pembicaraan tersebut. Menurut saya itu adalah sebuah isu yang menarik hingga ada komentar lain yang saya dengar bahwa krisis ini akan berlangsung hingga 2 tahun. Rasa “gatal” saya ingin menulis adalah ketika membaca estimasi angka pengangguran di Indonesia untuk waktu tersebut diperkirakan akan bertambah hingga sekitar 40ribu orang karena PHK. Wow, angka yang luar biasa. Belum lagi ketika kita berbicara pengangguran intelek, berhubung pada sekitaran bulan tersebut di beberapa kampus akan di selenggarakan wisuda.
Lalu pada Desember 2008, penurunan harga premium yang menurut saya kurang cantik. Langkah yang menggantung. Meski ternyata pada bulan Januari terjadi juga penurunan dan ditotal jumlah penurunan tercatat hingga 3 kali, pada penurunan ke tiga tercatat harga solar pun ikut turun. Mungkin ada yang berkomentar bahwa ini ada kaitannya dengan PEMILU 2009, isu yang politis, untuk menaikkan popularitas dsb. Yang menjadi concern saya adalah melihat ke isu yang lebih luas lagi, bahwa seperti apakah Grand Design Manajemen Energi Nasional dari pemerintah. Seperti apakah pemerintah ingin mengelola produksi, pendistribusian, pemanfaatan dan semua hal yang terkait dengan Energi.
Apakah pemerintah masih menginginkan rakyatnya bahagia dengan terus-terusan memanjakan rakyatnya dengan bensin murah. Kalau jawabannya “iya”, saya jadi ingin menganalogikan dengan orang tua yang memberikan anaknya gula-gula tanpa membekali dengan nasehat “nanti sikat gigi ya..” atau “jangan banyak2 ya makannya…” atau permintaan sejenis. Apakah sudah lupa bahwa waktu pemerintah menaikkan harga BBM salah satu alasan yang terdengar dikaitkan dengan penghematan. Bahkan pada saat sekarang pun ketika harga BBM sudah diturunkan belum terlihat ada penurunan harga sembako. Kemacetan pun belum bisa di pecahkan. Hal ini masih terkait dengan BBM karena bukankah dengan rendahnya harga BBM akan menaikkan potensi untuk konsumsi yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya bisa berarti orang akan semakin semangat mengisi kendaraannya karena lebih murah. Akhirnya, jumlah kendaraan yang turun ke jalan pun bertambah dan bisa ditebak: macet makin menjadi-jadi. Sepertinya pemerintah butuh lebih dari sekedar menaikkan dan menurunkan harga BBM.
Dan beberapa isu lain terkait dengan pergantian tahun baru dan rencana awal tahun. Ooh, memang waktu kita terbatas. Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan kelapangan. Amiiin…
Selamat mengarungi tahun masehi 2009. BTW, sengaja saya tulis Jeda I karena kemungkinan akan ada Jeda II dan seterusnya. Untuk sobat-sobat saya, terima kasih telah menyemangati saya untuk terus menulis. Saya bersyukur telah mengenal Anda…
perasaan udah komen, ko ga ada ya? …
komen lagi aja ya, karena sedang tidak bisa kerja.
iya, sebenarnya beberapa bulan terakhir banyak isu yang bisa memancing buah fikiran untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Tapi,benar memang, “siapa yang bisa membendung waktu yang bergulir”
Jeda I, Jeda II, Jeda III.. sok atuh, keep on writing.. Akhir2x ini blogger banyak yang jarang update.. pada beralih ke fesbuk kayaknya.. hehehe and it’s not good
Para blogger harus saling menyemangati ya!
Analisa yang menarik, By. Salut!
Hanya saja naik turunnya harga BBM juga dipengaruhi faktor – faktor yang berada di luar kendali Pemerintah RI, contoh: harga minyak dunia. Ada kabar perihal biodiesel?
hmm,, kadang mmg perlu jeda untuk lebih b’semangat..