Sebagian orang mungkin akan berkata bahwa uang adalah sebatas alat kita untuk hidup. Adanya hanya di tangan dan jangan di taruh di dalam hati. Ketika telah terlepas, kita tidak perlu berpusing-pusing lagi. Sementara, sebagian yang lain merasa hidup adalah untuk mencari uang. Bekerja siang malam demi mengumpulkan uang, ditimbun banyak-banyak meski kemudian usia tidak cukup untuk menikmatinya…
Seorang investor atau pebisnis akan melihat uang sebagai alat investasi. Investasi pun beragam bentuknya. Berapapun yang dimilikinya tentu akan berharga sekali karena bisa dijadikan sebagai modal kemudian uang tersebut diputar dan kelak mendatangkan laba (yang juga masih berupa uang).
Segalanya mesti di bayar dengan uang. Jangankan membeli air, membuang air saja anda akan dikenakan biaya sejumlah uang, tidak banyak memang, serelanya minimal seribu rupiah,hehe… Well, there is no such a free lunch… Mungkin hanya udara yang hingga saat ini masih belum terjamah oleh kedigdayaan uang, meskipun beberapa zat tertentu yang terkandung dalam udara ada yang di perdagangkan sebut saja nitrogen dan oksigen. Harga mahal tentu terkait dengan investasi dan proses pembuatannya yang menghabiskan energi.
Namun, ada juga orang yang menolak di berikan uang. Hebat bukan…? Pekerjaan ikhlas kah…? Sombongkah…? Perlu dilihat dulu kasusnya… Ada orang yang bekerja dengan penuh pengorbanan baik waktu maupun uang kemudian tidak menerima uang sepeser pun sebagai imbalan atas pengorbanan yang telah dilakukannya. Luar biasa memang, padahal kita mengetahui untuk kasus yang serupa orang bisa mendapat asupan uang. Contoh, rekan-rekan sukarelawan yang dengan ikhlas mengajar di pedalaman-pedalaman. Ada juga, orang yang bekerja (yang sebenernya tidak perlu), tapi menolak untuk di berikan uang karena mungkin dirasanya terlalu kecil. Kasus yang ini terjadi di persimpangan jalan dan beraktorkan pemuda yang menyetop kendaraan dari arah berlawanan (a.k.a polisi cepek). Jika merasa malas dengan uang yang di dapatnya ia akan mengeluh, kenapa diberikan uang cepek (seratus rupiah). Mungkin berusaha menolak status polisi cepek yang di sandangnya… Pernah bertemu kejadian serupa seperti ini…? Tindakan tidak hormat terhadap uang pernah saya alami ketika SMP, saya tengah duduk dibelakang supir angkot dan ada seorang pelajar yang membayar ongkos kepada supir. Supir angkot tersebut kemudian melempar ke jalan uang yang dibayarkan karena menganggap ongkos yang diterimanya dari pelajar itu masih kurang, ouch… Padahal bisa di minta baik-baik kan…
Bicara spesifik kepada kondisi fisik sang uang. Sepanjang hidup Anda, seberapa sering Anda melihat tulisan di uang kertas yang Anda pegang? Terkadang berisi tanda cinta seseorang, atau sekedar tulisan alamat, tulisan cur-hat orang , makian dsb. Bayangkan penghargaan terhadap uang dengan nilai nominal tertentu di nodai dengan kehadiran tulisan-tulisan tersebut, apakah seharusnya ada penurunan nilai? Kemudian terkadang kita melihat uang yang di simpan sekenanya, dikuwel-kuwel masuk ke dalam kantung hingga benyek. Yang kemudian ketika sampai ke tangan kita sudah seperti kertas kusam yang gambarnya mungkin sudah ada yang hilang karena terkelupas warnanya atau sekedar robek. Pernah kah anda pergi ke money changer? Saya pernah mendapat peringatan untuk pengurangan nilai tukar uang jika sang teller mendapati ada cacat pada uang dollar saya. Bahkan saya juga mendengar ada teller money changer yang tidak bersedia jika mendapati uangnya terlipat apalagi robek. Mungkin menghindari resiko pemalsuan uang juga. Untuk kasus terakhir ini, jargon dilihat-diraba dan diterawang sepertinya sangat membantu tidak hanya untuk mata uang rupiah tapi juga luar negri.
Uang… Uang…
Pada akhirnya, kembali bergantung kepada pandangan kita…
Untuk menghindari kerugian serupa tentu kita perlu lebih berhati-hati dalam (mendapatkan uang) – membawa uang – penyimpanan uang – (dan juga dalam pemakaian uang)…
Pertamax
(Di milis ga pernah bisa berhasil jadi yang pertama)
Terlalu banyak kata uang, jadi pusing
Denger2x ada virus yang menyebar melalui uang kertas ya? Kalau mengingat seringnya uang berputar dari tangan k tangan dan perlakuan orang2x yang berbeda terhadap uang tersebut, mungkin saja.. Jadi serem.
NB:Supir angkot Jkt emang galak2x dan kritis2x, pernah harus jalan sepulang sekolah dari Kodam sampe sumber arta hanya karena angkot mogok.. Unforgetable exp, rame2x jadi seru…
Kebanyakan “uang” ternyata memang bisa bikin pusing juga yah ya..?
Btw, supir angkot kritis kayak bgimana ya…? Menarik tuh…Hehe…
gak usah dibahas By..
Just grab 9,500,000 outta ur pocket for that gorgeous Canon 40D, and u won’t regret it..
(gw dah ngetes punya si Dedi, mantep gila…)
sori ga nyambung ma blognya, hahahaha
oii, itu angkot 04B kan? loe masih mending bos, cuma 3 tahun. gw 6 tahun naik angkot yg sama…… lewat rel yg tidak beradab itu
bos, masih inget tim yg tes di SMA TN gak??
@ Giri:
sadis ente… Ente jadi beli yak…?
Maklum brur… Jaman lagi sulit… Hehe…
* B.U. maksudnya..
@ doni:
Bukan don, tapi angka angkot yang lain… Hehe…
Waah… Udah lupa don…
Aya naon nya…?