Akhir bulan Mei, saya masih melihat kotak ajaib yang kita sebut dengan TV dihiasi oleh berita-berita mengenai naiknya harga BBM dan efek yang menyertainya. Ada gambaran tentang distribusi dana BLT, ada liputan tentang antrian BBM di daerah-daerah di Indonesia, ada liputan tentang demo mahasiswa yang menentang dan sebagainya. Berita mengenai sepak terjang KPK serta peristiwa penyerbuan Polisi ke UNAS juga ada. Isi media cetak nasional maupun daerah juga bisa dilihat tidak kalah meriahnya dengan isi layar kaca.
Tapi sungguh ajaib, semenjak 1 Juni, materi pemberitaan langsung berubah drastis. Tiba-tiba semua media menceritakan tentang kasus Monas, bentrokan antara dua kelompok massa yang sedang berdemo. Salah satu organisasi massa Islam yang kita kenal sebagai FPI ini terkenal dengan sepak terjangnya di dunia hitam, bukan sebagi user tapi sebagai sparring partner. Sementara berada di sisi ring lainnya adalah sekumpulan massa yang mengusung ide kebebasan yang kebetulan pada saat itu tengah mengusung ide suatu aliran sesat, atau minimal sebagai mana yang pernah dinyatakan oleh MUI dan Bakor Pakem (organisasi bentukan Presiden).
Kemudian, terlepas dari seperti apa pengusutan kasus Monas ini, sampai tulisan ini dibuat, saya masih belum melihat perhatian media (televisi) tentang nasib BLT, kabar kenaikan BBM dan apa solusi-solusi alternatif dari pemerintah maupun wakil rakyat terhadap kenaikan harga BBM dan kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok, kenaikan tarif tol, kenaikan tarif angkutan umum, serta kenaikan-kenaikan lainnya. Termasuk kenaikan kelas yang biasanya juga banyak biaya ini dan itu. Kalau dilihat komentar orang-orang di beberapa forum di dunia maya (bukan forum profesi), atau pun di tempat-tempat umum juga sudah bergeser, tidak jauh dari isi berita di TV. Mungkin sudah lupa dengan kenaikan harga BBM? Atau mungkin memang sudah harus dilupakan dan dimaafkan?Entah kenapa, tapi momen kejadian ini sungguh pas sekali dengan kejenuhan kita akan kenaikan harga BBM. Kebetulan atau rekayasa? Don’t ask me…
Satu hal, kekuatan media memang sungguh luar biasa.
Kepada yg sedang tidak ada ide komen :-B:
Jadi begini ya, By..
Kalo diperhatiin.. itu setiap kali ada isu BBM naik atau isu sejenis lainnya, pastiiii aja SBY seperti “terselamatkan” oleh isu lain yg tiba-tiba menyita perhatian. Kemarin pas BBM mau naik, ada isu film Fitna. Sekarang ada isu FPI.
Nah.. unik kan? Selalu tema2 “keislaman” yg jadi “tumbal”nya, regarding to our people character and tendecy.
Hingga taraf tertentu, konspirasi memang nyata2 ada.
Itu kasus FPI dan Ahmadiyah juga…
Sayangnya pihak2 yg tiada-sadar dimainkan juga tidak kunjung jadi bijak.
*Anyways, setelah dipikir2 wajar si, By ga komen2 di blogku.. kayanya postingannya susah dikomenin oleh “sebagian kalangan tertentu”. Ya, tapi gmana ya… to be honest, that’s the part of me.
Wahhh By, sepakaaatt bangeettt….media itu sangatlah membentuk mindset orang2 yg menontonnya. Kasus FPI vs AKKBB kmaren udah membuka mata gw untuk ngeliat segala sesuatu bukan hanya dari sudut pandang media yg main stream ajah. Link di bawah ini bikin gw hati2 sama media nasional kita.
http://www.eramuslim.com/berita/nas/8605062913-metro-tv-panggil-%EF%BF%BDrizieq-syihab-tanpa-%EF%BF%BDhabib.htm
Ga mau lagi gw nelen mentah2 kata media kita, hehe…kok malah koar2 gw di sini yaa, hehe sori By curhat, haha…
aBy.., makanya kita perkuat media yang ’semedia-medianya’ (maksudnya, media yang seimbang dan mencerdaskan-red).
atau mungkin, kita bikin media baru?
atau kita pasang link di blog kita, media mana yang ’seharusnya’ dan ’sebaiknya’ diakses?
Mengutip :
“Tapi sungguh ajaib, semenjak 1 Juni, materi pemberitaan langsung berubah drastis”
Sejak 1 juni juga umurku jadi 24, he3x..
Komen g penting, maap ya..
Mengutip lagi:
“saya masih belum melihat perhatian media …. tentang nasib BLT, kabar kenaikan BBM … kenaikan tarif tol, kenaikan tarif angkutan umum, serta kenaikan-kenaikan lainnya. Termasuk kenaikan kelas.. ”
tiba-tiba ada kenaikan kelas.. lucu, kreatif
Udah lama juga tidak terlalu menaruh perhatian di media, tapi sekarang yang lagi heboh kayaknya kasus Susan..
Media tampaknya kini lebih senang dengan yang berbau kriminalitas atau sudah ‘males’ dengan topik2x lainnya.
Bagaimanapun juga, BBM sebaiknya segera diganti dengan energi alternatif lain. Hayu atuh anak Tekim.. ada ngga?
Oh iya tanya dong.. katanya ada lumpur ya di palembang?asal usulnya darimana tuh?
@ Ika:
Mudah-mudahan setiap orang yang bertikai bisa menjadi lebih bijak ya ka…Regardless pertikaiannya…Masalah pribadi maupun umum…Amiiinn…
@ Fabian:
Wow, nice link fab. Thanks for the sharing…Memang kudu selektif. Apalagi ketika kita bisa mengendus motif lain di balik suatu peristiwa… *sniff..sniff…
@ Sukem:
Boleh tuh suk, jadi media mana yang perlu di cantumkan…?Jadi list nya bagaimana….?
@ Ulya:
Met milad kalo bgitu ya…
Ada beberapa pilihan energi alternatif saat ini, sebut aja microhydro, tenaga angin, geothermal, fuelcell, biofuel dan bahkan nuklir. Pilihan-pilihan itu sepertinya udah ada, tapi kalo menurut saya pribadi, terbentur di masalah regulasi dan itikad baik pemerintah.
Lumpur itu, mungkin bisa dilihat press release nya ya….Tepatnya seperti apa saya gak bisa komentar…Hehe…
@Izul:
Terima kasih…
media..media..
emg kekuatan media tuh bner2 hebat yaa..
skg,,di berita2 tuh heboh dibilang klo kasus FPI dituduh bwt alihkan kasus bbm.. di DPR jg heboh.. makanya,, kasus satu aja blm bres dh muncul kasus lain nii.. duhh,,
btw,,apa kabar ni kang?
hehhe seru juga bahasannya nih. setuju, ayla juga sebel ama media.. gak proposional pemberitaannya, makanya ayla lebih seneng nonton strawberry shortcake kalau gak syamil, pak oncu..
ia By, betul banget sepakat..media… media, kemaren juga Da sempet liat debat terbuka di TV one soal SKB ahmadiyah…yg sempet aku tulis komentarnya ni blog aku…masyaAllah, inti dari semuanya mungkin krisis akidah dan kepemimpinan…
ooh..sudahlah, sampe aku gtau ni aku ada di dunia mana..karena mikirin diri sendiri aja masih gak sanggup…hanya bisa mengamati dengan perasaan sedih…moga kelak kita semua survive dengan ke istiqomahan…amien
-Aida-
“Satu hal, kekuatan media memang sungguh luar biasa”
Makanya, kerja di media dong
Ehm..
Perkenalkan,
ini Ikram, teman saya. De Jhakarta Poust.
“Media adalah pilar keempat dalam demokrasi”
(Pak Heru, dosen saya, ngutip dari mana gitu.. lupa saya by hehe)
As requested… new post is already written… please check it as soon as possible. Should you have any comments, don’t hesitate to jot it down on my blog =)
Apa kabar juragan minyak? Harga minyak melonjak di mana2 nih by. Di sini juga termahal dalam sepuluh tahun terakhir. Cuma bedanya, saya ga demo hehe…
seinget gua…
Kenaikan BBM oleh SBY selalu bisa dengan cantik tertutup media:
Kenaikan BBM pertama: Bom Bali 2.
Kenaikan BBM kedua: Isu Ganyang Malaysia.
Kenaikan BBM ketiga: FPI.
kayaknya memang kenaikan BBM adalah kepentingan seseorang/sesuatu yang amat kuat sehingga bisa membuat isu tingkat nasional…
Tapi itu seingat gua… yang pertama dan kedua mungkin kebalik…
mungkin kita perlu terjun di media. membuat media yang independen.
-gHina (still remember me?)
kalo ngebayangin balik bahaya media buat adik2 kecilku, jadi inget gimana beratnya ‘menegakkan’ peraturan sederhana tentang nonton si kotak ajaib, heuheu
@ Dheend:
Kabar baik din. I’ve visited and link to your blog too…
@ Ayla:
Alhamdulillah. Karena itulah pa Oncu bangga sama ayla…
@ Aida:
Amiiinn da…
@ Ikram:
Wuah…ada orang media beneran berkunjung…Ckck…
@ Ika:
Ikram udah terkenal kok ka…Hehe…
@ Agung:
Alhamdulillah, udah nge-blog lagi…Hayuuuk…Dilanjut…
@ Dimas:
Yo i dim, good sight of yours…
@ Rifqie:
Perlu ada orang-orang baik yang mulai menghadirkan
media yang baik pula harusnya…Mungkin di mulai dari
mahasiswi elektro?
@ Gantina:
Woah, berat banget ya gan…?