Feeds:
Tulisan
Komentar

“Video Killed A Radio Stars…”

Konon penggalan lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Band bernama Buggles tahun 1979. Sekitar tahun 1998 lagu ini di populerkan kembali oleh grup The President Of USA.  Kabarnya lagi, lagu ini menceritakan kepopuleran video menggantikan radio, yang hanya bisa di dengar saja, pada zaman tersebut yang tentunya mencancam karir para bintangnya. Mungkin masa yang akan datang diperkirakan radio sama sekali tidak dijadikan pilihan dan studio penyiaran pun ditinggalkan begitu saja.

Lanjut Baca »

Pemilu Legislatif telah diselenggarakan secara serentak. Beberapa daerah memang ada yang terpaksa menyelenggarakan pemilu terpisah atas pertimbangan tertentu seperti hari keagamaan. Banyak sorotan pada Pemilu kali ini yang menilai buruknya kinerja KPU. Sebut saja masalah logistik yang telat dan kurang; masalah DPT yang menuai banyak kontroversi sehingga menimbulkan status golput administratif; tertukarnya kertas suara pemilih suatu wilayah dengan wilayah pemilihan lainnya serta beberapa indikasi kecurangan yang belum selesai diperkarakan.

Lanjut Baca »

Jeda I

“Siapakah yang bisa membendung waktu yang terus bergulir…?”

Tidak terasa, sudah hampir 3 bulan saya tidak menulis… Agak aneh juga rasanya. Meski berbeda dengan ketika saya lama tidak berolah-raga yang biasanya badan jadi terasa pegal-pegal dan mulai ada tambahan timbunan disini dan disana,hehe… Beberapa event sempat ingin saya komentari – karena salah satu peran yang ingin saya mainkan dengan blog ini adalah sedikit menangkap perjalanan sejarah (meski baru sebatas komentar).

Lanjut Baca »

Pesan di dalam botol

Pelaut,

Bentangan samudra telah ada di hadapan…

Lanjut Baca »

Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang

Berkilau di pandang orang

Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap

Yang mengangkat diri tinggi di langit

Padahal dirinya hina dina

(KH. Rahmat Abdullah (Alm.))

Di dalam hidup, Allah SWT. telah memberikan hamba-NYA kebebasan dalam memilih, luar biasa bebasnya, jauh lebih LUBER (Langsung Umum Bebas dan Rahasia) dari pemilu yang pernah ada. Karena pilihan-pilihan itu merupakan pilihan hati kita yang hanya kita dan Sang Penggenggam Jiwa saja yang tau. Sama halnya dengan memilih sikap ini: rendah hati kah kita atau justru sebaliknya… Mau yang manakah yang kita pilih, kita sendirilah yang akan menentukannya, dan pastilah – sebuah konsekuensi logis – kita jugalah yang akan mempertanggungjawabkannya (sendiri) kelak.

Ya Rabbana, semoga hari-hari setelah Ramadhan ini senantiasa kami penuhi dengan kerendahan hati, sebanyak apapun nikmat yang Engkau berikan maupun sesempit apapun (cobaan) hidup yang Engkau hamparkan… Dan mohon bekalilah kami dengan kekuatan hingga kami bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Amiiin…

Tulisan Sebelumnya »